Kamis, 26 Mei 2016

💥 Kajian Parenting 💥



by ibu Elly risman- (Senior Psikolog dan Konsultan, UI)

Pernah mencoba membetulkan keran sendiri? Pasang lampu bohlam sendiri?
Ganti ban motor atau mobil yang bocor di jalan? 
Me-lem sesuatu yang sdh terlanjur patah?
Membuka botol kaca yang Allahu akbar sangat susah di buka?
Memasak sambil menggendong anak bahkan di sambil lg dg menaruh pakaian kotor ke mesin cuci?
Menyetrika sambil bicara dg mertua di telfon dan kaki menggoyang2kan bouncer agar bayi tidak bangun dan menangis tanpa henti?

Hidup ini penuh masalah, cobaan, kesulitan, tantangan
dan pekerjaan susah yang kadang mau tidak mau hrs kita jalani.

Di Indonesia enak. Tkg ledeng terjangkau, pembantu ada, supir banyak yang punya.
Yang pernah (atau masih) tinggal di negara maju tahu betul bahwa pelayan dan pelayanan itu diluar jangkauan saku kita pada umumnya.
Laah yang bekerja saja belum tentu bisa membayar mereka, apalagi yang keluar negri nya untuk ngejar S3...

Kita tidak tahu anak kita terlempar di bagian bumi Allah yang mana nanti, izinkan dia belajar menyelesaikan masalahnya sendiri.
Jangan memainkan semua peran, ya jd ibu, ya jd koki, ya jd tkg cuci. Ya jd ayah, ya jadi tukang ledeng, ya jadi pengemudi.

Anda bukan anggota tim SAR, anak anda tidak dalam keadaan bahaya, berhentilah memberikan bantuan bahkan ketika sinyal S.O.S nya tdk ada. Jangan mencoba untuk membantu dan memperbaiki semuanya.

Anak mengeluh sedikit krn itu puzzle tidak bisa nyambung menjadi satu, ‘sini..ayah bantu’. Botol minum ditutup rapatnya sedikit susah, ‘sini.. mama saja’.
Sepatu bertali lama di ikat, sekolah sdh hampir telat ..‘biar ayah aja deh yang kerjain’, kecipratan minyak sedikit ‘sudah sini, kentangnya mama saja yang gorengin’.

Kapan anaknya bisa? Jgn kan di luar negri, di Indonesia saja pembantu sdh semakin langka.
Kalau bala bantuan muncul tanpa adanya bencana, apa yang terjadi ketika bencana benar2 tiba?

Berikan anak-anak kesempatan untuk menemukan solusi mereka sendiri.
Kemampuan menangani stress, menyelesaikan masalah, dan mencari solusi itu keterampilan/skill  yang wajib di miliki.
Yang namanya keterampilan/skill, untuk bisa terampil, ya hrs di latih.
Kalau tanpa latihan, lalu di harapkan simsalabim mereka jadi bisa sendiri??

Kemampuan menyelesaikan masalah dan bertahan dalam kesulitan tanpa menyerah bisa berdampak sampai puluhan tahun ke depan.
Bukan saja bisa membuat seseorang lulus sekolah tinggi, tapi juga lulus melewati ujian badai2 pernikahan dan kehidupannya kelak.

Tampaknya sepele sekarang..secara apalah  salahnya sih kita bantu anak?
Tapi jika anda segera bergegas menyelamatkannya dari segala kesulitannya, dia akan menjadi ringkih .. dan mudah layu.

Susah sedikit... bantuan diminta.
Berantem sedikit ya sdh lah, cerai saja.
Sakit sedikit ngeluhnya luar biasa,
Masalah sedikit... bisa jd gila.

Kalau anda menghabiskan banyak waktu, perhatian dan uang untuk IQnya, habiskan hal yang sama untuk AQ nya juga.
AQ ? Apa itu? Adversity Quotient.

Adversity quotient menurut Paul G. Stoltz dalam bukunya yg berjudul sama, adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami. 
Bukannya kecerdasan ini yg jd lebih penting daripada IQ, untuk menghadapi masalah sehari-hari?

Perasaan mampu melewati ujian juga luar biasa nikmatnya. Merasa bisa menyelesaikan masalah, mulai dari yang sederhana sampai yang sulit, membuat diri semakin percaya bahwa meminta tolong hanya dilakukan ketika kita benar2 tdk lagi bisa.

Setelah di coba berkali-kali, berulang-ulang, tdk menyerah dalam waktu yang lama.
So izinkan anak anda melewati kesusahan.

Tidak masalah anak mengalami sedikit luka, sedikit nangis, sedikit kecewa, sedikit telat dan sedikit kehujanan. Akui kesulitan yang sedang dia hadapi,
Tahan lidah, tangan dan hati dari memberikan bantuan, ajari menangani frustrasi.

Kalau anda selalu jadi ibu peri atau guardian angel, apa yang terjadi jika anda tdk bernafas lagi esok hari?
Bisa-bisa anak anda ikut mati.
Sulit memang untuk tidak mengintervensi, ketika melihat anak sendiri susah, sakit dan sedih

Apalagi dg menjadi orangtua, insting pertama adalah melindungi, jadi melatih AQ ini adalah ujian kita sendiri juga sebagai orangtua

Tapi sadarilah hidup penuh dengan ketidakenakan dan masalah akan selalu ada.
Dan mereka harus bisa bertahan. Melewati hujan, badai, dan kesulitan, yang kadang tidak selalu bisa kita hindarkan.

"Permata hanyalah arang... yang bisa melewati tekanan dengan sangat baik"

Selamat beraktifitas... prenss🌺💐🌷🌸

#justcopas

Kamis, 19 Mei 2016

*HUKUMAN YANG TIDAK TERASA*



Seorang murid mengadu kepada gurunya:
_"Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita"_. 

Sang Guru menjawab dengan tenang: 
_"Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak terasa"_.

_"Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah: *Sedikitnya taufiq*  (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan"_.

Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari *"kekerasan hatinya dan kematian hatinya"*.

Sebagai contoh:
Sadarkah engkau, bahwa Allah telah *mencabut darimu rasa bahagia dan senang* dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri di hadapanNya..? 

Sadarkah engkau *tidak diberikan rasa khusyu'* dalam shalat..? 

Sadarkah engkau, bahwa beberapa hari2 mu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur'an, padahal engkau mengetahui firman Allah:
_"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini ke gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk, retak, karena takut kepada Allah"_. 

Tapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur'an, seakan engkau tidak mendengarnya... 

Sadarkah engkau, telah berlalu beberapa malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau begadang... 

Sadarkah engkau, bahwa telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti: Ramadhan.. Enam hari di bulan Syawwal.. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dst.. tapi engkau belum diberi taufiq untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya..?? 

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu..??? Tidakkah engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah)..??? 

Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo'a kepadanya..??? 

Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau lemah di hadapan hawa nafsu..??? 

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini..??? 

Sadarkah engkau, yang mudah bagimu berghibah, mengadu domba, berdusta, memandang ke yang haram..??? 

Sadarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu dan ilmu tertinggi..??? 

Semua *bentuk pembiaran* ini dengan berbagai bentuknya ini, hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau menyadarinya, atau tidak menyadarinya... 

Waspadalah wahai anakku, agar engkau tidak terjatuh ke dalam dosa dosa dan meninggalkan kewajiban kewajiban. 

Karena *hukuman yang paling ringan* dari Allah terhadap hambaNya ialah:
_*"Hukuman yang terasa"* pada harta, atau anak, atau kesehatan._

Sesungguhnya *hukuman terberat* ialah: _*"Hukuman yang tidak terasa"*_ pada kematian hati, lalu ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan, dan tidak merasakan sakitnya dosa._

Karena itu wahai anakku, *Perbanyaklah di sela sela harimu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan hatimu...*


(Diterjemahkan dari Taushiyah Syaikh Abdullah Al-'Aidan di Masjidil Haram )
🕋🌴🌴🐫


 
Hasil gambar untuk taubat dan istighfar

Rabu, 18 Mei 2016

Tukang Reparasi sepeda

Sepertinya serius banget kalau liat expressi Papa mbenerin sepeda Fira, sampai sepeda dijungkir balik seperti itu, padahal hanya gantiin scrupnya, hehe....

Tuh kan..serius amat kayaknya ganti scrupnya....malam2 lagi..

"Capjay deh Papa.....hahahaa...

Senin, 16 Mei 2016

7 golongan dalam naungan Arsy-Nya



Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda bahwa : “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata.

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ : اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Artinya :

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata. Tujuh golongan tersebut yaitu :
1. Imam (pemimpin) yang adil.
2. Pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya.
3. Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid.
4. Dua orang yg saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah.
5. Dan seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang berkedudukan lagi cantik rupawan, lalu ia mengatakan: “Sungguh aku takut kepada Allah.”
6. Seseorang yang bershodaqoh lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya.
7. Dan orang yang berdzikir kepada Allah di waktu sunyi, lalu berlinanglah (berjatuhan) air matanya.”

Hadits shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, II/143 – Fat-h, dan Muslim, no. 1031.

Golongan lain yang mendapatkan naungan Allah Ta’ala adalah orang yang memberi kelonggaran kepada orang yang kesulitan membayar hutang kepadanya atau memutihkan hutang darinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللهُ فِي ظِلِّهِ

“Barangsiapa yang memberi kelonggaran kepada orang yang sedang kesulitan membayar hutang atau memutihkan hutang orang tersebut, niscaya Allah akan menaunginya dalam naungan Arsy-Nya (pada hari Kiamat).”
Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 3006.

 Gambar terkait