Tampilkan postingan dengan label pasutri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pasutri. Tampilkan semua postingan
Jumat, 10 Februari 2017
Ketaatan istri ke suami
Serial wonderful
ππππ
Suami yang Layak Ditaati Istri
ππππ
Di satu sisi, ketaatan adalah sebuah tuntunan sikap bagi para istri terhadap suami. Namun di sisi lain, tentu saja harus ada peran suami yang sangat penting, agar istri selalu bisa taat kepada dirinya. Karena ketaatan terhadap suami bukanlah bersifat mutlak, namun bersifat 'bersyarat'. Ketaatan mutlak itu hanya kepada perintah Allah dan Nabi, sedangkan terhadap manusia selalu ada syarat yang menyertainya. Termasuk ketaatan terhadap suami.
Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya tentang tiga jenis ketaatan istri terhadap suami, bahwa suami memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan ketaatan istri terhadapnya. Bagaimana suami bersikap dan menempatkan diri maka seperti itu pula istri akan meresponsnya. Oleh karena itu, jika memang suami menghendaki istrinya taat dengan landasan hormat dan cinta maka suami harus bisa memerankan diri secara patut untuk diberikan respons sesuai harapannya.
--
Suatu malam beberapa orang suami datang ke rumah saya untuk berdiskusi tentang cara "menundukkan" istri. Seorang suami yang bertugas di kesatuan militer mengatakan, lebih mudah memimpin anak buah di kesatuan dibanding memimpin istri di rumah. Demikian pula suami yang bertugas sebagai direktur sebuah perusahaan, menyatakan lebih mudah mengatur karyawan di perusahaan dibandingkan mengatur istri di rumah.
"Di kesatuan, anak buah selalu menyatakan 'siap laksanakan' untuk setiap perintah yang kita berikan. Di rumah, jadinya malah bertengkar setiap saya menyuruh istri," ujar seorang suami.
"Di perusahaan, semua anak buah hormat dan patuh kepada saya. Di rumah, saya selalu dilecehkan oleh istri. Semua kata-kata saya selalu dimentahkan. Saya merasa tidak terhormat ketika di rumah," ujar suami yang direktur perusahaan.
Dengan kondisi itu, mereka bertanya bagaimana cara 'menundukkan' istri agar taat dan patuh pada suami serta tidak membangkang. Mereka merasa 'berkuasa' di kesatuan atau di perusahaan, namun menjadi 'tidak berdaya' ketika di rumah.
Saya sampaikan kepada mereka bahwa istri itu bukan anak buah bukan pula karyawati perusahaan. Istri adalah pasangan hidup, belahan jiwa, soulmate, garwo (sigaraning nyowo), yang berinteraksi secara sangat dekat dan intim dengan suami.
Maka cara membuat menjadi taat dan patuh tidak sama dengan di kesatuan militer maupun di perusahaan. Ada cara tersendiri yang khas untuk membuat istri memjadi taat dan patuh kepada suami.
Kepatuhan dan ketundukan anak buah di kesatuan militer adalah sebuah sistem, yang dibentuk semenjak masa pendidikan yang sangat ketat, dilaksanakan dengan penuh kedisiplinan, dengan konsekuensi hukuman tertentu apabila terjadi ketidakpatuhan.
Demikian pula di perusahaan, semua anak buah bisa dipecat atau di-PHK jika tidak taat kepada pimpinan. Sementara itu di dalam kehidupan keluarga, ikatan suami dan istri bukanlah kontrak kerja. Tidak pula melalui masa pendidikan yang khusus untuk menyiapkan menjadi calon istri.
Ketaatan atau kepatuhan adalah salah satu karakter yang harus dimiliki istri salihah. Karena suami menjadi pemimpin dalam kehidupan keluarga maka konsekuensinya adalah ditaati dan dipatuhi, selama keinginan dan perintah suami berada dalam kebenaran, kebaikan, dan kepatutan.
Memang tidak mudah untuk menjadi taat dan patuh 'begitu saja'. Dalam konteks kesetaraan nilai kemanusiaan, satu pihak harus memimpin dan satu pihak menjadi yang dipimpin. Satu pihak yang memimpin ini bernama suami, dan yang dipimpin bernama istri. Tidak peduli apakah suami lebih cakap atau lebih pandai atau lebih mumpuni dalam memimpin atau tidak. Suami tetap harus memimpin keluarga.
Istri menjadi pihak yang dipimpin oleh suami, kendati ia lebih tinggi pendidikannya, lebih tinggi status sosialnya, lebih banyak kekayaannya, saat kuliah lebih tinggi IP-nya, atau lebih tinggi dan lebih banyak gelar kesarjanaannya. Sebagai istri ia harus taat dalam kepemimpinan suami. Namun ketaatan yang dimaksud bukanlah ketaatan yang bodoh dan buta.
Jika kepemimpinan suami dilandasi cinta maka ketaatan istri juga dilandasi cinta.
@pakcah
πΏππΏππΏππΏ
ππππ
Suami yang Layak Ditaati Istri
ππππ
Di satu sisi, ketaatan adalah sebuah tuntunan sikap bagi para istri terhadap suami. Namun di sisi lain, tentu saja harus ada peran suami yang sangat penting, agar istri selalu bisa taat kepada dirinya. Karena ketaatan terhadap suami bukanlah bersifat mutlak, namun bersifat 'bersyarat'. Ketaatan mutlak itu hanya kepada perintah Allah dan Nabi, sedangkan terhadap manusia selalu ada syarat yang menyertainya. Termasuk ketaatan terhadap suami.
Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya tentang tiga jenis ketaatan istri terhadap suami, bahwa suami memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan ketaatan istri terhadapnya. Bagaimana suami bersikap dan menempatkan diri maka seperti itu pula istri akan meresponsnya. Oleh karena itu, jika memang suami menghendaki istrinya taat dengan landasan hormat dan cinta maka suami harus bisa memerankan diri secara patut untuk diberikan respons sesuai harapannya.
--
Suatu malam beberapa orang suami datang ke rumah saya untuk berdiskusi tentang cara "menundukkan" istri. Seorang suami yang bertugas di kesatuan militer mengatakan, lebih mudah memimpin anak buah di kesatuan dibanding memimpin istri di rumah. Demikian pula suami yang bertugas sebagai direktur sebuah perusahaan, menyatakan lebih mudah mengatur karyawan di perusahaan dibandingkan mengatur istri di rumah.
"Di kesatuan, anak buah selalu menyatakan 'siap laksanakan' untuk setiap perintah yang kita berikan. Di rumah, jadinya malah bertengkar setiap saya menyuruh istri," ujar seorang suami.
"Di perusahaan, semua anak buah hormat dan patuh kepada saya. Di rumah, saya selalu dilecehkan oleh istri. Semua kata-kata saya selalu dimentahkan. Saya merasa tidak terhormat ketika di rumah," ujar suami yang direktur perusahaan.
Dengan kondisi itu, mereka bertanya bagaimana cara 'menundukkan' istri agar taat dan patuh pada suami serta tidak membangkang. Mereka merasa 'berkuasa' di kesatuan atau di perusahaan, namun menjadi 'tidak berdaya' ketika di rumah.
Saya sampaikan kepada mereka bahwa istri itu bukan anak buah bukan pula karyawati perusahaan. Istri adalah pasangan hidup, belahan jiwa, soulmate, garwo (sigaraning nyowo), yang berinteraksi secara sangat dekat dan intim dengan suami.
Maka cara membuat menjadi taat dan patuh tidak sama dengan di kesatuan militer maupun di perusahaan. Ada cara tersendiri yang khas untuk membuat istri memjadi taat dan patuh kepada suami.
Kepatuhan dan ketundukan anak buah di kesatuan militer adalah sebuah sistem, yang dibentuk semenjak masa pendidikan yang sangat ketat, dilaksanakan dengan penuh kedisiplinan, dengan konsekuensi hukuman tertentu apabila terjadi ketidakpatuhan.
Demikian pula di perusahaan, semua anak buah bisa dipecat atau di-PHK jika tidak taat kepada pimpinan. Sementara itu di dalam kehidupan keluarga, ikatan suami dan istri bukanlah kontrak kerja. Tidak pula melalui masa pendidikan yang khusus untuk menyiapkan menjadi calon istri.
Ketaatan atau kepatuhan adalah salah satu karakter yang harus dimiliki istri salihah. Karena suami menjadi pemimpin dalam kehidupan keluarga maka konsekuensinya adalah ditaati dan dipatuhi, selama keinginan dan perintah suami berada dalam kebenaran, kebaikan, dan kepatutan.
Memang tidak mudah untuk menjadi taat dan patuh 'begitu saja'. Dalam konteks kesetaraan nilai kemanusiaan, satu pihak harus memimpin dan satu pihak menjadi yang dipimpin. Satu pihak yang memimpin ini bernama suami, dan yang dipimpin bernama istri. Tidak peduli apakah suami lebih cakap atau lebih pandai atau lebih mumpuni dalam memimpin atau tidak. Suami tetap harus memimpin keluarga.
Istri menjadi pihak yang dipimpin oleh suami, kendati ia lebih tinggi pendidikannya, lebih tinggi status sosialnya, lebih banyak kekayaannya, saat kuliah lebih tinggi IP-nya, atau lebih tinggi dan lebih banyak gelar kesarjanaannya. Sebagai istri ia harus taat dalam kepemimpinan suami. Namun ketaatan yang dimaksud bukanlah ketaatan yang bodoh dan buta.
Jika kepemimpinan suami dilandasi cinta maka ketaatan istri juga dilandasi cinta.
@pakcah
πΏππΏππΏππΏ
Bukan.begini by Pak Cah
cahyadi_takariawan
BUKAN BEGINI !
π
Berikut ini beberapa rumus interaksi suami dan istri, yang menjadi unsur pembentuk kebahagiaan dan kekokohan rumah tangga.
πππ
1. Bukan Siapa Yang Lebih Hebat
Hidup berumah tangga itu bukan hebat-hebatan. Suami merasa lebih hebat, istri merasa lebih hebat.
Walaupun seandainya anda memang lebih hebat, namun menonjolkan kehebatan anda untuk melemahkan pasangan, tidak akan membahagiakan keluarga.
Apalagi kalau cuma sok hebat. Justru membuat ada yang terluka.
2. Bukan Siapa Yang Lebih Pintar
Hidup berumah tangga itu bukan pinter-pinteran. Suami merasa lebih pintar, istri merasa lebih pintar.
Walaupun seandainya anda memang lebih pintar, namun menonjolkan kepintaran anda untuk menjatuhkan pasangan, tidak akan membahagiakan keluarga.
Apalagi kalau cuma sok pintar. Akan membuat ada yang tersiksa.
3. Bukan Siapa Menang Siapa Kalah
Hidup berumah tangga itu bukan menang-menangan. Suami merasa harus menang, istri merasa harus menang.
Walaupun seandainya anda memang bisa menang dalam segala hal, namun menyombongkan kemenangan anda untuk menghina pasangan, tidak akan membahagiakan keluarga.
Apalagi kalau cuma sok menang. Justru membuat ada yang tersakiti.
4. Bukan Siapa Yang Lebih Kuat
Hidup berumah tangga itu bukan kuat-kuatan. Suami merasa lebih kuat, istri merasa lebih kuat.
Walaupun seandainya anda memang lebih kuat, namun menonjolkan kekuatan anda untuk merendahkan pasangan, tidak akan membahagiakan keluarga.
Apalagi kalau cuma sok kuat. Justru membuat ada yang terluka.
5. Bukan Siapa Yang Lebih Kaya
Hidup berumah tangga itu bukan adu kekayaan. Suami merasa lebih kaya, istri merasa lebih kaya.
Walaupun seandainya anda memang lebih kaya, namun menonjolkan kekayaan anda untuk menistakan pasangan, tidak akan membahagiakan keluarga.
Apalagi kalau cuma sok kaya. Justru membuat ada yang terhina.
6. Bukan Siapa Yang Lebih Pandai Berdebat
Hidup berumah tangga itu bukan adu kepandaian bicara dan berdebat. Suami pandai berdebat, istri pandai berdebat.
Walaupun seandainya anda memang pandai berdebat, namun menonjolkan perdebatan untuk membodohkan pasangan, tidak akan membahagiakan keluarga.
Justru membuat ada yang tertekan.
7. Bukan Siapa Yang Lebih Mulia Status Sosialnya
Hidup berumah tangga itu bukan adu kemuliaan status sosial. Suami merasa lebih mulia status sosialnya, istri juga merasa lebih mulia.
Walaupun seandainya anda memang lebih mulia marga, suku atau status sosialnya, namun menonjolkan kemuliaan anda untuk mengejek pasangan, tidak akan membahagiakan keluarga.
Justru membuat ada yang terzalimi.
8. Bukan Siapa Yang Lebih Bagus Kariernya
Hidup berumah tangga itu bukan tinggi-tinggian jabatan atau karier. Suami membanggakan karier di tempat kerja, istri membanggakan karier di tempat kerja.
Walaupun seandainya anda memang lebih bagus karier dan lebih tinggi posisi di tempat kerja, namun menonjolkan bagusnya karier anda untuk mencela pasangan, tidak akan membahagiakan keluarga.
Justru membuat ada yang tersingkirkan.
9. Bukan Siapa Yang Lebih Banyak Fans-nya
Hidup berumah tangga itu bukan adu banyak-banyakan fans. Suami merasa lebih banyak fans-nya, istri juga merasa lebih banyak fans-nya.
Walaupun seandainya anda memang lebih banyak fans, namun menonjolkan banyaknya fans anda untuk meledek pasangan, tidak akan membahagiakan keluarga.
Justru membuat ada yang terjatuhkan.
10. Bukan Soal Siapa Yang Harus Mengalah
Hidup berumah tangga itu juga bukan ngalah-ngalahan. Suami merasa hanya dirinya yang mengalah, istri merasa hanya dirinya yang mengalah.
Walaupun seandainya anda selama ini memang selalu mengalah, namun menuduh dan menghina pasangan yang anda anggap tidak pernah mau mengalah itu tidak akan membahagiakan keluarga.
Justru membuat ada yang sengsara.
Follow IG
Cahyadi Takariawan
BUKAN BEGINI !
π
Berikut ini beberapa rumus interaksi suami dan istri, yang menjadi unsur pembentuk kebahagiaan dan kekokohan rumah tangga.
πππ
1. Bukan Siapa Yang Lebih Hebat
Hidup berumah tangga itu bukan hebat-hebatan. Suami merasa lebih hebat, istri merasa lebih hebat.
Walaupun seandainya anda memang lebih hebat, namun menonjolkan kehebatan anda untuk melemahkan pasangan, tidak akan membahagiakan keluarga.
Apalagi kalau cuma sok hebat. Justru membuat ada yang terluka.
2. Bukan Siapa Yang Lebih Pintar
Hidup berumah tangga itu bukan pinter-pinteran. Suami merasa lebih pintar, istri merasa lebih pintar.
Walaupun seandainya anda memang lebih pintar, namun menonjolkan kepintaran anda untuk menjatuhkan pasangan, tidak akan membahagiakan keluarga.
Apalagi kalau cuma sok pintar. Akan membuat ada yang tersiksa.
3. Bukan Siapa Menang Siapa Kalah
Hidup berumah tangga itu bukan menang-menangan. Suami merasa harus menang, istri merasa harus menang.
Walaupun seandainya anda memang bisa menang dalam segala hal, namun menyombongkan kemenangan anda untuk menghina pasangan, tidak akan membahagiakan keluarga.
Apalagi kalau cuma sok menang. Justru membuat ada yang tersakiti.
4. Bukan Siapa Yang Lebih Kuat
Hidup berumah tangga itu bukan kuat-kuatan. Suami merasa lebih kuat, istri merasa lebih kuat.
Walaupun seandainya anda memang lebih kuat, namun menonjolkan kekuatan anda untuk merendahkan pasangan, tidak akan membahagiakan keluarga.
Apalagi kalau cuma sok kuat. Justru membuat ada yang terluka.
5. Bukan Siapa Yang Lebih Kaya
Hidup berumah tangga itu bukan adu kekayaan. Suami merasa lebih kaya, istri merasa lebih kaya.
Walaupun seandainya anda memang lebih kaya, namun menonjolkan kekayaan anda untuk menistakan pasangan, tidak akan membahagiakan keluarga.
Apalagi kalau cuma sok kaya. Justru membuat ada yang terhina.
6. Bukan Siapa Yang Lebih Pandai Berdebat
Hidup berumah tangga itu bukan adu kepandaian bicara dan berdebat. Suami pandai berdebat, istri pandai berdebat.
Walaupun seandainya anda memang pandai berdebat, namun menonjolkan perdebatan untuk membodohkan pasangan, tidak akan membahagiakan keluarga.
Justru membuat ada yang tertekan.
7. Bukan Siapa Yang Lebih Mulia Status Sosialnya
Hidup berumah tangga itu bukan adu kemuliaan status sosial. Suami merasa lebih mulia status sosialnya, istri juga merasa lebih mulia.
Walaupun seandainya anda memang lebih mulia marga, suku atau status sosialnya, namun menonjolkan kemuliaan anda untuk mengejek pasangan, tidak akan membahagiakan keluarga.
Justru membuat ada yang terzalimi.
8. Bukan Siapa Yang Lebih Bagus Kariernya
Hidup berumah tangga itu bukan tinggi-tinggian jabatan atau karier. Suami membanggakan karier di tempat kerja, istri membanggakan karier di tempat kerja.
Walaupun seandainya anda memang lebih bagus karier dan lebih tinggi posisi di tempat kerja, namun menonjolkan bagusnya karier anda untuk mencela pasangan, tidak akan membahagiakan keluarga.
Justru membuat ada yang tersingkirkan.
9. Bukan Siapa Yang Lebih Banyak Fans-nya
Hidup berumah tangga itu bukan adu banyak-banyakan fans. Suami merasa lebih banyak fans-nya, istri juga merasa lebih banyak fans-nya.
Walaupun seandainya anda memang lebih banyak fans, namun menonjolkan banyaknya fans anda untuk meledek pasangan, tidak akan membahagiakan keluarga.
Justru membuat ada yang terjatuhkan.
10. Bukan Soal Siapa Yang Harus Mengalah
Hidup berumah tangga itu juga bukan ngalah-ngalahan. Suami merasa hanya dirinya yang mengalah, istri merasa hanya dirinya yang mengalah.
Walaupun seandainya anda selama ini memang selalu mengalah, namun menuduh dan menghina pasangan yang anda anggap tidak pernah mau mengalah itu tidak akan membahagiakan keluarga.
Justru membuat ada yang sengsara.
Follow IG
Cahyadi Takariawan
Kamis, 18 Agustus 2016
Persahabatan Abadi Suami Istri
Sering saya sampaikan bahwa hendaknya suami istri itu saling menjadi sahabat satu dengan yang lainnya. Ini karena corak interaksi yang sangat khas dan intim antara suami dengan istri, yang tidak sama dengn corak interaksi antarmanusia pada umumnya.
Bukan seperti interaksi dalam perusahaan, dalam organisasi, dalam pemerintahan, atau dalam hubungan bisnis. Corak interaksi dan komunikasi suami istri sangat dekat, sangat intim dan tanpa sekat dan jarak. Istilah “suami” dan “istri” itu adalah pernyataan hukum, yang menandakan bahwa di antara mereka berdua telah terikat oleh pernikahan yang sah. Namun hakikatnya, mereka harus menjadi sahabat yang sanga istimewa. Bukan saling asing atau saling menjadi orang lain, namun saling mendekat dan tidak berjarak. Jika suami dan istri saling jaim, menjaga jarak satu dengan yang lain, membuat interaksi mereka menjadi sangat formal dan tidak memiliki kedekatan dan keintiman.
Surat nikah hanyalah bukti legal formal bahwa mereka berdua sudah sah sebagai suami dan istri, namun kehidupan pernikahan tidak bisa bahagia hanya karena mereka memiliki surat itu. Yang membahagiakan mereka adalah corak interaksi dan komunikasi yang mereka bangun setiap hari. Yang berkesan dan melanggengkan kebahagiaan mereka adalah kualitas persahabatan antara suami dan istri.
Jika mereka tidak memiliki tingkat persahabatan yang bagus, maka ikatan yang ada hanyalah legal formal. Hanya bicara hak dan kewajiban. Yang menunaikan sejumlah peran, tanpa kehadiran perasaan dan kehadiran jiwa di dalamnya. Rumah tangga akan kering, gersang, mekanistik, dan sekedar berjalan tanpa ada sentuhan keindahan. Hidup berumah tangga seperti ini akan cepat membuat lelah kedua belah pihak. Siapakah Sahabat? Jika ada dua orang bersahabat karib, apakah yang terjadi di antara mereka? Apa yang menjadi ciri sebuah persahabatan, yang membedakan dengan hubungan antarmanusia pada umumnya? Perhatikan ciri-ciri sahabat berikut ini.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pakcah/persahabatan-abadi-suami-istri_57aed99c8823bde9137d15bc
Note#, dicopy dari kompasiana P Cah, hanya untuk dibaca2 untuk keperluan sendiri
Bukan seperti interaksi dalam perusahaan, dalam organisasi, dalam pemerintahan, atau dalam hubungan bisnis. Corak interaksi dan komunikasi suami istri sangat dekat, sangat intim dan tanpa sekat dan jarak. Istilah “suami” dan “istri” itu adalah pernyataan hukum, yang menandakan bahwa di antara mereka berdua telah terikat oleh pernikahan yang sah. Namun hakikatnya, mereka harus menjadi sahabat yang sanga istimewa. Bukan saling asing atau saling menjadi orang lain, namun saling mendekat dan tidak berjarak. Jika suami dan istri saling jaim, menjaga jarak satu dengan yang lain, membuat interaksi mereka menjadi sangat formal dan tidak memiliki kedekatan dan keintiman.
Surat nikah hanyalah bukti legal formal bahwa mereka berdua sudah sah sebagai suami dan istri, namun kehidupan pernikahan tidak bisa bahagia hanya karena mereka memiliki surat itu. Yang membahagiakan mereka adalah corak interaksi dan komunikasi yang mereka bangun setiap hari. Yang berkesan dan melanggengkan kebahagiaan mereka adalah kualitas persahabatan antara suami dan istri.
Jika mereka tidak memiliki tingkat persahabatan yang bagus, maka ikatan yang ada hanyalah legal formal. Hanya bicara hak dan kewajiban. Yang menunaikan sejumlah peran, tanpa kehadiran perasaan dan kehadiran jiwa di dalamnya. Rumah tangga akan kering, gersang, mekanistik, dan sekedar berjalan tanpa ada sentuhan keindahan. Hidup berumah tangga seperti ini akan cepat membuat lelah kedua belah pihak. Siapakah Sahabat? Jika ada dua orang bersahabat karib, apakah yang terjadi di antara mereka? Apa yang menjadi ciri sebuah persahabatan, yang membedakan dengan hubungan antarmanusia pada umumnya? Perhatikan ciri-ciri sahabat berikut ini.
- Sahabat itu saling berbagi Disebut sahabat, karena mereka saling berbagi rasa dalam suka dan duka. Mereka saling membantu dan saling meringankan beban, karena kuatnya ikatan perasaan yang ada pada diri mereka. Saat memiliki keluangan rejeki, ingin berbagi. Saat sedang kekurangan, sahabat adalah tempat yang tepat untuk berkeluh kesah. Saat pergi rekreasi, ingin membelikan hadiah untuk sahabat. Saat sedang haji, ingat mendoakan sahabat. Demikian pula suami istri. Semestinya mereka saling berbagi dalam suka dan duka, dalam canda dan airmata, dalam derita dan bahagia. Suami dan istri harus saling bisa berbagi dalam segala sisi, baik perasaan, materi, fasilitas, dan lain sebagainya. Suami dan istri itu tidak pelit, tidak rumit dalam berbagi, dan memudahkan semua urusan. Sampai pun dalam hal yang teknis dan praktis, bisa makan sepiring berdua, minum segelas bersama, tidur satu selimut, menggunakan sabun dan pasta gigi yang sama, dan lain sebagainya. Jika suami istri tidak mau peduli dan saling berbagi, berarti mereka belum saling menjadi sahabat. Mereka masih mementingkan diri sendiri, masih sangat kuat keakuan dan kekamuan, belum menyatu menjadi kita.
- Sahabat itu saling curhat Jika ada seseorang sedang memiliki masalah, ia paling mudah curhat kepada sahabatnya. Sahabat adalah seseorang yang kita rela menceritakan semua masalah hidup kita. Sahabat adalah seseorang yang kita rela membuka semua aib kita hanya kepadanya. Berbagai macam hal tentang kesedihan dan kebahagiaan bisa disampaikan kepada sahabat dengan leluasa. Tanpa ada perasaan tidak nyaman atau sungkan, karena kuatnya ikatan diantara mereka. Demikian pula suami istri. Semestinya mereka saling curhat, saling membuka diri, saling menyampaikan kegelisahan dan kebahagiaan, saling merenda harapan. Berbagai masalah, berbagai kesulitan, berbagai kesenangan, bisa diobrolkan dengan santai. Semua bisa diselesaikan dengan nyaman dan menyenangkan. Suami dan istri harus memiliki tradisi mengobrol dan saling bercerita, tanpa ada perasaan takut atau beban berat. Suami dan istri harus leluasa menyampaikan keluhan, perasaan, pikiran, keinginan, harapan, tanpa merasa takut atau khawatir yang berlebihan. Jika suami dan istri tidak bisa saling curhat, atau ada suasana tidak nyaman saat curhat, menandakan mereka belum mencapai kondisi sahabat. Ketika ada masalah bukan curhat kepada pasangan, justru curhat kepada sahabat yang ada di luar rumah. Justru curhat melalui chatting dengan orang lain. Harusnya sahabat sejati yang harus dicurhati pertama kali adalah suami atau istri, bukan orang lain.
- Sahabat itu senang dan betah menemani Dua orang atau lebih yang bersahabat, mereka saling senang untuk menemani kegiatan yang lain. Kadang hanya sekedar menemani makan siang atau makan malam, kadang hanya menemani jalan-jalan, atau menemani belanja, atau menemani olah raga. Jika tidak menjadi sahabat, menemani adalah aktivitas yang tidak menyenangkan dan membosankan. Namun karena saling bersahabat, maka menemani adalah kegiatan yang membahagiakan untuk semua. Demikian pula suami istri. Semestinya mereka bisa saling menemani. Suami senang menemani kegiatan istri, sebagaimana istri senang menemani kegiatan suami. Walaupun kegiatan itu tampak tidak penting, atau kegiatan rutin, namun mereka saling menikmati. Suami tidak tersinggung saat diminta mengantar istri belanja, karena merasa diperlakukan seperti sopir atau suruhan. Justru suami merasa senang menemani istri mengerjakan kegiatannya. Jika lebih senang sendiri-sendiri, mereka bukanlah sahabat. Bahkan ketika sekedar duduk-duduk saja di teras belakang rumah, tanpa kata-kata, tanpa ada cerita. Kebersamaan mereka bukan hanya karena ada yang perlu diomongkan atau dicurhatkan. Kebersamaan mereka ada dalam segala suasana, sehat maupun sakit, suka maupun duka, dalam gerak maupun diam. Karena ada masa dimana suami istri sudah kehabisan cerita, kehabisan kata-kata, yaitu saat tua renta. Mereka tidak perlu lagi bercerita seperti anak muda, namun tetap bisa meikmati kebersamaan walau dalam diam. Jika suami dan istri tidak betah menemani, bahkan lebih senang jika sendiri, artinya belum menjadi sahabat bagi pasangan. Apalagi jika merasa tersiksa saat bersama pasangan, ini sangat jauh dari makna sahabat.
- Sahabat itu tidak banyak bertanya Sahabat itu tidak banyak bertanya. Jika ada dua orang yang bersahabat karib, mereka akan sangat mudah untuk saling mengerti kesenangan ataupun ketidaksenangan tanpa banyak tanya. Jika salah satu dari mereka mengajak pergi, maka sahabat tidak perlu banyak bertanya. Tidak perlu ribut mendefinisikan tujuan pergi, karena sudah saling mengerti tempat favorit, menu favorit, lagu favorit, dan lain sebagainya. Suami dan istri semestinya tidak perlu banyak bertanya. Jika mereka berdua sudah menjadi sahabat setia satu dengan yang lain, maka setiap ajakan suami akan mudah direspon istri dan setiap ajakan istri akan mudah direspon suami tanpa banyak bertanya lagi. “Ayuk kita pergi jalan-jalan yuk”, ajak sang istri. Dengan cepat sanag suami menyahut, “Ayuk....” tanpa harus banyak bertanya atau meributkan soal kemana atau untuk apa. Hal itu karena mereka sudah saling mengerti akan pergi kemana, atau jalan-jalan kemana, atau bahkan tidak kemana-manam karena hanya ingin menikmati suasana. Jika suami dan istri masih sangat banyak yang dipertanyakan, segala sesuatu harus melalui keributan, semua keputusan diambil dengan suasana yang sangat alot dan menegangkan, menandakan mereka belum saling menjadi sahabat satu dengan yang lain. Sekedar memutuskan kegiatan saat libur akhir pekan, harus melalui perdebatan panjang, harus melalui pertengkaran yang melelahkan, ini menandakan belum menemukan format persahabatan.
- Sahabat itu saling percaya Sahabat itu saling percaya satu dengan yang lain. Mereka memberikan kepercayaan yang sangat tinggi seakan tanpa garansi. Saat seseoramg melakukan suatu tindakan, sebagai sahabat akan lebih cepat percaya bahwa tindakan itu tidak membahayakannya. Semua cerita dan omongan akan mudah dipercaya. Semua barang terasa aman jika dititip kepada sahabat dibanding dititip kepada yang lainnya. Semua janji akan dipercaya kebenarannya, bahkan ketika janji itu tidak ditepati akan mudah untuk dimaklumi. Suami istri semestinya menjadi sahabat yang saling percaya satu dengan lainnya. Mereka tidak mudah cemburu buta, karena percaya informasi dari pihak ketiga. Mereka lebih percaya kepada pasangannya daripada omongan orang lain. Mereka lebih percaya kepada pasangannya daripada isu yang berdar di sosial media. Suami akan mudah mempercayai istri dalam urusan keuangan dan manajemen rumah tangga. Istri akan mudah mempercayai suami dalam urusan keuangan dan pekejaan. Saat merasa ada yang perlu diklarifikasi, mereka akan cepat percaya kepada keterangan pasangannya. Jika suami istri tidak bisa saling percaya, bawaannya hanya curiga, lebih percaya orang lain daripada pasangannya, menandakan mereka belum menjadi sahabat setia. Suami selalu mencurigai istri, dan istri selalu mencemburui suami. Ada ustri yang menyewa detektif untuk mengutit kegiatan suami. Ada suami yang memasang kamera tersembunyi dan alat perekam untuk mengetahui kegiatan istri. Mereka tidak bisa saling percaya, sehingga selalu curiga dan mudah timbul prasangka.
- Sahabat itu betah ngobrol berlama-lama Salah satu ciri sahabat adalah betah mengobrol berlama-lama, untuk tema dan urusan apa saja. Mereka bisa menghabiskan waktu yang panjang hanya untuk mengobrol. Pada saat-saat senggang mereka menyempatkan waktu untuk bertemu dan mengobrol. Bahkan jika tidak sempat bertemu mereka bisa berbicara lewat telepon berlma-lama. Ada rasa rindu apabila lama tidak mendengar suaranya, ada rasa kangen untuk mendengar suara tertawanya, atau candanya yang kadang kelewatan. Tapi justru itu menyenangkan dan membentuk kenangan. Suami dan istri seharusnya menjadi sahabat yang betah mengobrol berlama-lama, tanpa peduli tema. Mereka tidak lagi meributkan akan berbicara tentang tema apa, karena tema yang paling penting adalah : mengobrol berdua. Suami dan istri merasakan keasyikan untuk selalu menghabiskan waktu berbicara, mengobrol, bercerita, bercanda, bersendau gurau dalam suasana yang ceria. Ada kerinduan mendengar suara tawanya, ingin selalu menghabiskan waktu berdua dalam obrolan mesra. Itulah persahabatan hakiki antara suami dan istri. Jika suami istri masih ribut soal tema pembicaraan, jika mereka belum bisa betah mengobrol berlama-lama, jika mereka saling menyimpan perasaan saat berdua, menandakan belum menjadi sahabat setia. Mungkin saja sang istri yang banyak bicara dan cerita, sementara suaminya diam saja. Namun diamnya sang suami ini menkmati, bukan diam dalam kebencian. Walau hanya diam, namun sang suami betah mendengar obrolan istri. Sesekali waktu ia menyela, bertanya, atau hanya senyum senyum saja dan tertawa.
- Sahabat itu saling mengerti Bukanlah sahabat jika tidak saling mengerti dan memahami. Ciri persahabatan adalah adanya pengenalan yang mendalam antara satu dengan yang lainnya. Mereka bahkan memiliki uniform, memiliki istilah-istilah khas yang tidak dimengerti oleh orang yang berada di luar lingkaran persahabatan. Sebuah kalimat yang tidak dipahami orang lain, mudah dipahami oleh sahabat. Komunikasi yang bagi orang lain tidak bisa dimengerti, akan mudah dipahami oleh sahabat. Itu karena kedalaman pengenalan di antara mereka. Suami istri adalah pasangan yang seharusnya paling mengerti, paling memahami satu dengan yang lain. Maka tangis, makna tawa, makna anggukan kepala, makna tatapan mata, maka lambaian tangan, makna kerdipan, makna senyum, makna gerakan jari, bahkan rona wajah pasangan. Suami dan istri saling mengerti apa yang menyenangkan pasangan dan apa yang membuatnya benci. Apa yang menenteramkan pasangan dan apa yang menggelisahkannya. Suami dan istri saling mengerti tentang hal yang membuat marah dan murka pasangan. Jika suami dan istri sulit mengerti keinginan pasangan, sulit memahami bahasa pasangan, artinya mereka belum saling menjadi sahabat. Suami dan istri mestinya berada dalam pengertian dan pemahaman yang sangat mendalam, karena interaksi yang sangat intim setiap harinya. Jika suami dan istri tidak saling mengerti, selalu salah komunikasi, mudah tersinggung oleh kalimat pasangan, ini menandakan belum adanya persahabatan di antara mereka berdua.
- Sahabat itu ada ketika anda memerlukannya Sahabat itu menjadi istimewa, karena selalu ada saat kita memerlukannya. Ia hadir untuk menghibur di saat kita sedih, hadir untuk memotivasi saat kita terpuruk, hadir untuk membimbing saat kita terjatuh. Sahabat merelakan waktu, tenaga, pikiran dan harta untuk membantu keperluan kita. Ini yang membuat persahabatan tidak mudah rusak dan hilang, bisa menjadi sahabat sehidup semati, karena sifatnya yang sangat peduli. Demikianlah suami dan istri, semestinya mereka saling peduli dengan kondisi pasangannya. Saat istri memerlukan kehadiran suami, maka suami selalu ada di dekatnya. Saat suami memerlukan kehadiran istri, maka istri selalu ada di sampngnya. Dengan demikian, suami benar-benar merasakan kehadiran istri, dan istri benar-benar merasakan kehadiran suami. Mereka berdua saling menikmati kebersamaan yang melegakan dan membahagiakan. Ada perasaan terjaga, terlindungi, terawat dan terpuaskan kebutuhannya. Jika suami dan istri benar-benar bisa saling menjadi sahabat
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pakcah/persahabatan-abadi-suami-istri_57aed99c8823bde9137d15bc
Note#, dicopy dari kompasiana P Cah, hanya untuk dibaca2 untuk keperluan sendiri
Kamis, 30 Juni 2016
ISTRI
* SIAPAKAH "
ISTERI " ? *
Orang selalu berkata:
ADA....
" ... bekas
istri "
" ... bekas
suami "
TIDAK ADA
" bekas anak
"
" bekas orangtua ".....
Seorang Profesor melakukan riset kecil kpd
mahasiswa" nya yang sudah berkeluarga.
Dia lalu meminta 1 orang mahasiswa untuk maju ke depan
papan tulis.
Professor : "
Tuliskan 10 nama orang yg paling dekat denganmu."
Lalu mahasiswa itu menulis 10 nama ; ada nama tetangga,
orangtua, teman kerja, istri, anak, saudara, dst..
Profesor : "
Sekarang silakan pilih 7 orang di antara 10 nama tsb yg kamu benar2 ingin hidup
terus bersamanya "
Mahasiswa itu lalu mencoret 3 nama.
Profesor : "
Silakan coret 2 nama lagi. "
Tinggalah 5 nama tersisa.
Profesor : "
Coret lagi 2 nama."
Tersisalah 3 nama yaitu nama :
" ibu "
" Istri
" dan
" anak
".
Suasana kelas jadi hening.... Mereka mengira semuanya
sudah selesai dan tak ada lagi yang harus dipilih...
Tiba2 ......Profesor berkata : " Silakan coret 1 nama lagi..!
"
Mahasiswa itu tertegun untuk sementara waktu,.. lalu
dengan perlahan ia mengambil pilihan yg amat sulit...dan mencoret nama " IBU " nya... !!!
..suasana semakin hening..
Profesor berkata
lagi : " Silakan coret 1 nama lagi
!"
Hati sang mahasiswa makin bingung....
Suasana kelas makin tegang ....
Mereka semua juga berpikir keras mencari pilihan yg
terbaik...
Mahasiswa itu kemudian mengangkat spidolnya dan dengan
sangat lambat ia mencoret nama:
" ANAK
" nya ....!!!
Bersamaan dengan itulah sang mahasiswa tidak kuat lagi
membendung air matanya, dan ..., Ia pun " Menangis "...
Awan kesedihan meliputi seluruh sudut ruang kuliah....
Setelah suasana lebih tenang,..... akhirnya sang Profesor
bertanya..
Professor :
" Kenapa kamu
tidak memilih " orang tua " yg
membesarkanmu ...?!?
tidak juga memilih "anak "
yang adalah darah dagingmu...?!?
kenapa kamu memilih "ISTERI
" ....?!? ...
Toh istri bisa dicari lagi khan..?!?..
Semua orang didalam ruang kuliah terpana menunggu jawaban
dari mulut mahasiswa itu...
Lalu mahasiswa itu berkata lirih :
"Seiring waktu berlalu,... orang tua saya harus
pergi.... dan meninggalkan saya....; Demikian juga anak saya... Jika dia sudah
dewasa lalu menikah... Artinya dia pasti meninggalkan saya juga.....
Akhirnya... orang yang benar2 bisa menemani saya dalam
hidup ini... bahkan yang dengan sabar dan setia mendampingi dan mensupport saya
saat tertatih dan terseok-seok berjalan menghadapi himpitan kehidupan untuk
meraih karir hanyalah " ISTRI " saya yang selalu ada ....
Setelah nenarik nafas panjang dia melanjutkan,
"Orangtua dan anak bukanlah saya yg memilih....., tapi Allah SWT yang
menganugerahkan..
Sedangkan " ISTERI "..
saya sendirilah yang memilihnya dari sekian wanita yang
ada dan saya kenal...
πππ
Salam hormat buat para istri yg rela bangun lebih awal untuk menyiapkan
keperluan Anda dan anak Anda, khususnya
di bulan Ramadhan ini..
Sang istri sibuk dengan rencana masakan yg akan disajikan
saat berbuka maupun saur...
Terkadang mereka kehabisan ide untuk menyajikan masakan
terbaik dan terenak untuk cintanya..
Semoga Allah SWT
selalu menyiapkan tempat yg mulia di Syurga. Menjadikan Ratu dari para bidadari
yang anda miliki nanti..
...Aamiin.. aamiin.. aamiin ya Rabbal alaamiin...
ππππππ``` Selamat pagi...dan
selamat ber aktivitas.
PS: Pernah di share cerita ini di FB suami, Glad that you share it Hub..
Selasa, 31 Mei 2016
Pernikahan Adalah Akad
-1- Pernikahan adalah akad atau ikatan,
akad
untuk beribadah,
akad untuk membangun rumah tangga sakinah mawadah wa rahmah
akad
untuk bersama-sama menggapai surga nan indah.
-2- Pernikahan adalah akad untuk
saling mencintai,
akad untuk saling mengerti dan memahami,
akad untuk saling
peduli,
akad untuk saling mempercayai,
akad untuk saling menghormati dan
menghargai.
-3- Pernikahan adalah akad untuk saling menguatkan keimanan,
akad
untuk saling meningkatkan ketakwaan,
akad untuk mengokohkan ketaatan kepada
Tuhan,
akad untuk berjalan pada tuntunan Kenabian.
-4- Pernikahan adalah akad
untuk saling menerima apa adanya,
akad untuk saling membantu dan meringankan
beban,
akad untuk saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran,
akad untuk
tidak menuntut sesuatu di luar kemampuan pasangan.
-5- Pernikahan adalah akad
untuk selalu setia kepada pasangannya setia
dalam suka dan duka,
dalam kesulitan
dan kesuksesan,
dalam sakit dan sehat,
dalam tawa dan air mata.
-6- Pernikahan
adalah akad untuk meniti hari-hari dalam kebersamaan,
akad untuk saling
melindungi,
akad untuk saling menjaga,
akad untuk saling memberikan rasa aman
dan nyaman,
akad untuk saling menutupi aib,
akad untuk saling mencurahkan
perasaan,
akad untuk berlomba melaksanakan peran kerumahtanggaan.
-7-
Pernikahan adalah akad untuk mudah mengakui kesalahan,
akad untuk saling
meminta maaf,
akad untuk saling memaafkan,
akad untuk tidak menyimpan dendam
dan kemarahan,
akad untuk tidak mengungkit-ungkit kelemahan, kekurangan, dan
kesalahan.
-8- Pernikahan adalah akad atau ikatan,
akad untuk tidak melakukan
pelanggaran,
akad untuk meninggalkan kemaksiatan,
akad untuk tidak saling
melukai hati dan perasaan,
akad untuk tidak saling menyakiti badan,
akad untuk
tidak saling menorehkan duka kepada pasangan.
-9- Pernikahan adalah akad untuk
mesra dalam perkataan,
akad untuk santun dalam pergaulan,
akad untuk indah
dalam penampilan,
akad untuk sopan dalam mengungkapkan keinginan,
akad untuk
murah dalam pemberian,
akad untuk berlaku lembut kepada pasangan.
-10-
Pernikahan adalah akad untuk menjadi pasangan harmonis,
akad untuk memberikan
senyum termanis,
akad untuk selalu berlaku romantis, akad untuk tidak berwajah
bengis,
akad untuk tidak bersikap sinis dan sadis.
-11- Pernikahan adalah akad
untuk saling mengembangkan potensi diri,
akad untuk adanya saling keterbukaan
yang melegakan,
akad untuk saling menumpahkan kasih sayang,
akad untuk saling
merindukan,
akad untuk saling mendoakan,
akad untuk saling mendengarkan,
akad
untuk saling memperhatikan,
akad untuk saling membahagiakan.
-12- Pernikahan
adalah akad untuk tidak adanya pemaksaan kehendak,
akad untuk tidak saling
membiarkan,
akad untuk tidak saling menjerumuskan,
akad untuk tidak saling
meninggalkan, akad untuk tidak saling mendiamkan.
-13- Pernikahan adalah akad
untuk rajin bekerja dan berusaha,
akad untuk mencari rejeki yang halal dan
thayib,
akad untuk menjauhi penghasilan yang haram dan syubhat,
akad untuk
tidak berputus asa,
akad untuk memiliki tekad membaja,
akad untuk tidak
meminta-minta,
akad untuk selalu memiliki etos kerja.
-14- Pernikahan adalah
akad untuk menjaga hubungan kekeluargaan,
akad untuk berbakti kepada orang tua
dan mertua,
akad untuk memperhatikan kerabat dan saudara,
akad untuk memuliakan
tamu dan sesama, akad untuk berbuat baik kepada tetangga.
-15- Pernikahan
adalah akad untuk mencetak generasi berkualitas,
akad untuk siap menjadi bapak
dan ibu teladan,
akad untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak,
akad
untuk membangun peradaban masa depan.
-16- Pernikahan adalah akad untuk
menebarkan kebaikan
akad untuk mencegah kemungkaran,
akad untuk terlibat dalam
perbaikan masyarakat, bangsa, negara dan dunia.
-17- Pernikahan adalah akad
untuk segala yang bernama kebaikan !
Selengkapnya :
http://www.kompasiana.com/pakcah/pernikahan-adalah-akad_54f6ee93a333116e5a8b4e9f
#copas dari kompasiana Pak Cah, tidak untuk disebarluaskan, hanya untuk dibaca untuk keperluan pribadi.
Rabu, 11 Mei 2016
Pak Cah : 8 tanda istri tengah minta perhatian
8 Tanda Istri Tengah Minta Perhatian
09 Mei 2016 08:11:00 Diperbarui: 09
Mei 2016 15:34:36 Dibaca : 1,391 Komentar : 2 Nilai : 5 8 Tanda Istri Tengah
Minta Perhatian Sumber: focus.de
Banyak lelaki mengatakan perempuan
itu seperti cuaca, situasinya sering tidak terduga. Bahkan ada lelaki yang
mengatakan, seperti politik di Indonesia. Kondisinya sering berubah-ubah. Hal
ini karena kaum perempuan adalah makhluk yang banyak menggunakan perasaan
ketika berkomunikasi dan berinteraksi dengan suami, sehingga selalu ada sisi
sensitif yang tidak terduga.
Sementara itu kaum lelaki adalah
makhluk yang banyak mengandalkan akal dalam komunikasi dan interaksi dengan
istri. Seiring dengan perjalanan waktu, kehidupan berumah tangga sering
terjebak ritme rutinitas. Monoton, mengalir tanpa irama yang bisa dinikmati.
Istri merasa, sang suami semakin cuek. Tidak mempedulikan dirinya, tidak
mengerti kebutuhannya, tidak paham keinginannya. Sementara itu sang suami
menganggap istrinya terlalu banyak menuntut dan manja. Ia memilih bersikap
mengalir saja, karena merasa tidak bisa mengerti keinginan istri.
Pada titik seperti itu, sang istri
semakin merasa tidak diperhatikan. Istri merasa telah diabaikan oleh suami.
Maka lambat laun sang istri merasa tidak bahagia dalam kehidupan pernikahannya.
Ia merasa tidak mendapatkan apa yang dicari dalam pernikahan. Ia merasa tidak
menemukan apa yang diharapkan dari pasangan. Kekecewaan bisa semakin dalam dan
menumpuk, apabila suami tidak segera mengambil langkah untuk memperhatikannya.
Delapan Tanda Istri Anda Butuh Perhatian
Ketika istri tengah tidak bahagia,
ia akan menampakkan tanda-tanda yang mudah dikenali oleh suami. Di saat itu,
istri tengah memerlukan perhatian yang lebih.
Ada beberapa tanda istri yang
menunjukkan bahwa mereka tengah memerlukan perhatian dari suami:
1.
Banyak Diam,
Berhenti Bicara Perempuan adalah
makhluk verbal, sangat suka bicara. Sudah sering saya tulis, bahwa menurut para
ahli, kaum perempuan mampu memproduksi duapuluh ribu kosa setiap hari. Berbeda
dengan lelaki yang hanya memproduksi tujuh ribu kosa kata setiap hari. Wajar
jika para istri bersifat cerewet atas segala sesuatu, karena memang memiliki
kemampuan produksi kosa kata yang jauh lebih banyak daripada suami. Maka jika
istri bersikap diam, tidak berkomunikasi dengan suami, berarti ada sesuatu yang
tengah terjadi. Ini merupakan tanda bahwa dirinya tengah meminta perhatian
lebih dari suami. Diamnya istri dalam waktu yang lama, jelas menunjukkan ada
hal yang tidak beres dalam dirinya. Ia merasa tengah tidak bahagia, tidak
nyaman, dan butuh perhatian. Istri tengah memerlukan perhatian dari suami,
dengan jalan diam.
2.
Emosional,
Sering Marah Jika istri bersikap
emosional, sering marah pada suami tanpa alasan yang jelas, merupakan tanda
bahwa ia memerlukan perhatian suami. Sikap emosional seperti ini bisa saja
muncul secara periodik yang bisa dipahami sebabnya, seperti ketika menjelang
menstruasi, di mana kaum perempuan akan mengalami sindrom yang membuatnya lebih
labil dari segi emosi. Atau ketika tengah 'tanggal tua' di mana persediaan
logistik sudah semakin menipis atau bahkan habis. Wajar dan mudah dipahami jika
istri bersikap emosional. Namun jika sikap emosional ini tampak tidak ada sebab
yang mudah dimengerti, menandakan istri tengah membutuhkan perhatian dari
suami. Istri tengah merasa tidak bahagia, maka ia luapkan dalam bentuk sikap
emosi atau mudah marah.
3.
Malas,
Selalu Merasa Lelah Konon, perempuan
yang tidak bahagia dalam pernikahannya memiliki kadar kortisol lebih tinggi.
Ini menyebabkan mereka mudah lelah. Ketika dalam masa yang panjang istri tampak
malas, mudah merasa lelah dalam menjalani kegiatan keseharian, menunjukkan
dirinya tengah ada masalah. Mungkin ia merasa tidak bahagia, sehingga muncul
kemalasan dan mudah lelah setiap saat. Hal ini tampak dalam kegiatan keseharian
yang lebih banyak santai, tidak mengerjakan aktivitas rumah tangga. Hendaknya
para suami memahami, bahwa istri tengah memerlukan perhatian saat ia selalu tampak
malas dan mudah lelah.
4.
Tidak Bergairah
Ketika merasa tidak bahagia, istri
tidak suka disentuh atau dicium oleh suami. Istri menjadi tidak bergairah,
karena badmood. Di saat seperti itu, ia akan melayani suami sekadarnya, sebagai
sebuah kewajiban belaka. Bukan sesuatu yang dinikmati. Ketika harus melayani
suami di ranjang, tampak dingin dan tidak bergairah. Melakukan hanya untuk
menggugurkan kewajiban sebagai seorang istri. Hal ini menandakan ada sesuatu
yang tidak beres dalam dirinya. Jika istri tidak bergairah, sering menolak
ajakan bercinta, bisa jadi dia tengah memerlukan perhatian lebih dari suami.
5.
Memiliki Banyak Rahasia
Perempuan pada dasarnya makhluk yang
ingin menceritakan segala hal. Itulah sebabnya, para istri selalu memerlukan
tempat untuk curhat. Jika di rumah tidak ada waktu yang disediakan suami untuk
menampung curhatnya, istri akan merasa tidak nyaman, dan mudah mencari orang
lain untuk dijadikan tempat curhatnya. Istri akan banyak terbuka tentang
berbagai hal, karena perempuan adalah makhluk yang suka berbagi cerita dan
kondisi perasaan. Begitu istri mulai menyimpan banyak rahasia, menandakan istri
tengah memerlukan perhatian dari suami. Saatnya suami untuk mengajak istri
berbicara dari hati ke hati agar mengetahui masalah yang tengah dihadapi.
6.
Tidak Percaya pada Suami
Saling percaya adalah salah satu
kunci bahagia pernikahan. Ketika istri selalu curiga terhadap berbagai hal
kecil yang dilakukan suami, memeriksa isi gadget suami, memata-matai dan
mengikuti suami, pertanda ia tengah butuh perhatian. Bisa jadi suami terlalu
cuek kepada istri, tidak mengajak mengobrol, tidak menyapa, lebih peduli dengan
hobi atau gadget-nya, maka istri merasa tidak diperhatikan. Jika istri mulai
menunjukkan sikap tidak percaya kepada suami, bawaannya selalu curiga,
menandakan dirinya tengah memerlukan perhatian. Saatnya suami lebih
memperhatikan istri, dengan memberikan waktu istimewa baginya.
7.
Tidak Memperhatikan Penampilannya
Pada dasarnya, perempuan adalah
makhluk yang senang berhias diri. Itulah sebabnya, dalam dunia bisnis, sangat
banyak sarana kecantikan yang ditawarkan kepada kaum perempuan, sejak dari
kosmetik, obat, salon kecantikan, perawatan tubuh dan lain sebagainya.
Sebaliknya, sangat sedikit produk perawatan 'ketampanan' bagi kaum laki-laki.
Lazimnya, istri sangat peduli dengan penampilan dan dandannya. Ia menjadi tidak
nyaman saat tampak tidak menarik. Maka, ketika istri mulai malas berdandan,
tidak peduli penampilannya, menandakan bahwa ia tengah butuh perhatian dari
suami.
8.
Tidak Melayani Suami
Salah satu bentuk dan wujud cinta
istri kepada suami adalah senang melayani. Dalam hal-hal sederhana, seperti
menyiapkan sarapan, membuatkan teh atau kopi, merapikan tempat tidur, dan lain
sebagainya, merupakan wujud kecintaan istri terhadap suami. Para istri sangat
peduli dengan kondisi suami, justru karena mereka makhluk yang banyak
menggunakan potensi perasaannya. Hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan yang
berlaku di hampir semua keluarga di Indonesia. Maka ketika istri tidak lagi mau
melayani suami, tidak memperhatikan suami dan tidak peduli dengan kondisi
suami, pertanda ia tengah butuh perhatian suami.
Segera Berikan Perhatian dengan 3 L
Jika para suami mendapatkan
gejala-gejala tersebut ada pada istrinya, hendaknya segera memberikan perhatian
khusus. Jangan biarkan berlarut-larut, karena akan berdampak lebih buruk bagi
kehidupan keluarga. Istri yang konsisten merasa kurang perhatian dari suami,
akan semakin sedih dan bahkan merasa tersiksa. Hidupnya merasa tidak bahagia,
pernikahannya seakan hampa, tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Sangat mudah untuk memberikan
perhatian bagi istri. Prinsipnya adalah 3 L, yaitu Look, Listen dan Link.
Pertama, Look. Yang dimaksud adalah,
lihat kondisi istri secara langsung. Jika istri sedang menampakkan tanda butuh
perhatian, datangilah, temanilah, perhatikanlah dirinya. Jika perlu, ambil cuti
kerja demi menemani istri sehari atau dua hari secara penuh. Tanyakanlah apa
yang menjadi beban pikirannya atau ganjalan hatinya. Mintalah ia untuk
bercerita apa saja. Sampaikan bahwa anda siap untuk membahagiakannya.
Kedua, Listen. Dengarkan semua isi
pembicaraan istri. Jangan memotong, jangan menyela, jangan menginterupsi. Di
saat seperti itu, istri tengah memerlukan kanal perhatian yang istimewa, maka
biarkan ia bercerita tentang apa saja. Mendengarkan dengan saksama,
memperhatikan pembicaraannya, membuat istri merasa mendapat perhatian istimewa
dari suami. Apalagi saat suami bersedia menemani dan membersamai kegiatan
istri, sambil mendengarkan semua keluh kesah istri. Ini akan sangat membantu
istri meringankan beban perasaan dan pikirannya.
Ketiga, Link. Yang dimaksud dengan
link adalah, berikan tindak lanjut berupa kanal yang positif. Tidak cukup hanya
dengan didengarkan, karena bisa jadi ada persoalan serius yang memang
memerlukan penyelesaian secara konkret. Segera lakukan tindakan berikutnya yang
diperlukan, untuk menunjukkan bahwa memang anda serius memperhatikan dirinya.
Kanal ini sangat penting untuk membuat istri merasa nyaman, karena mendapatkan
penyelesaian praktis sesuai yang diharapkan.
Tentu saja, memberikan perhatian
kepada istri adalah bentuk dan wujud cinta suami terhadap istri. Harus
dilakukan sepanjang waktu, tanpa harus menunggu istri menampakkan gejala butuh
perhatian. Jika anda sudah rutin memberikan perhatian terhadap istri,
tanda-tanda tersebut tidak akan ada pada istri anda.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pakcah/8-tanda-istri-tengah-minta-perhatian_572fe3a48ffdfd281a8173d3
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pakcah/8-tanda-istri-tengah-minta-perhatian_572fe3a48ffdfd281a8173d3
#Diambil dari Kompasiana Pak Cahyadi T. Hanya untuk dibaca sendiri di blog pribadi.
Langganan:
Postingan (Atom)




